Kamis, 04 Februari 2010

Pelajaran dari Medan

Kota Medan Di Desain Anti Banjir

Medan ( Berita ) : Pemerintah kolonial Belanda mendesain Kota Medan anti terhadap banjir, ini dibuktikan dengan keberadaan riol-riol bawah tanah yang dibangun dengan ruang yang cukup besar pada masa itu.
Sejarawan Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phill Ichwan Azhari, di Medan, Selasa [27/10] , mengatakan, pemerintah Belanda memiliki “planing” atau rencana jangka panjang yang cukup matang dalam membangun Kota Medan.
Berbicara pada dialog interaktif refleksi dan eksistensi pemuda “81 Tahun Sumpah Pemuda Menuju Reformasi Bangsa” di Unimed, ia mengatakan, matangnya planing tersebut tidak terlepas dari perkiraan bahwa mereka akan tetap berkuasa di Indonesia, sehingga pembangunan dapat dipergunakan oleh anak cucu mereka kelak.
Salah satu bukti yang dapat dilihat adalah pembangunan gedung-gedung yang kokoh dan juga mendesain pembangunan Kota Medan anti terhadap banjir dengan daya tahan hingga 200 tahun.
Misalnya di depan rumah Tjong Afie di Jalan Ahmad Yani, terdapat riol-riol bawah tanah yang cukup besar tempat pembuangan air baik limbah rumah tangga maupun air hujan.
Namun sayangnya pada masa Jepang masuk ke Medan riol-riol raksasa tersebut digunakan untuk keperluan lain seperti tempat penyimpanan logistik perang, persembunyian tentara Jepang dan tempat pembuangan mayat korban perang.
“Sampai sekarang riol-riol tersebut masih dapat ditemukan keberadaannya namun sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana tujuan awal pembuatannya. Jadi dengan adanya riol-riol raksasa itu, Medan memang pada awalnya di desain anti banjir,” katanya.
Namun yang menjadi pertanyaan mengapa Medan selalu mengalami banjir, menurut dia, banjir tersebut terjadi lebih disebabkan ulah manusia yang membuang sampah sembarangan hingga mengakibatkan parit-parit tersumbat.
“Logikanya di tengah-tengah Kota Medan ini ada beberapa sungai yang cukup besar yakni Sungai Deli, Babura dan Denai. Banjir yang datang itu bukan air sungai yang melimpah tetapi air yang tidak dapat mengalir ke sungai,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Medan Syamsul Bahri, mengatakan, persoalan-persoalan banjir yang terjadi di Kota Medan tidak terlepas dari kurang disiplinnya masyarakat.
“Kalau masyarakat tidak membuang sampah ke parit-parit, tidak akan membuat air parit melimpah ke badan jalan dan akibat lainnya adalah jalan akan menjadi cepat rusak. “Aspal itu musuh utamanya adalah air. Jadi kalau aspal sempat terendam air daya tahannya akan cepat berkurang,” ucapnya. ( ant )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar